Senin, 31 Agustus 2009

MISI HIDUP DALAM SEBUAH KERJA

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. segera sakja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar bisa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, "bisa numpang makan dan beli sedikit sabun". Tapi bukankah ia bisa menaikan harga sedikit? sekali lagi ia terkekeh, "Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?", katanya sambil menunjukan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi sedikit kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang nampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja, menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.
Continue Reading...

TEMUKAN CINTA ANDA


Bila anda tidak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang ada disana. Rasakan kegembiraan dari pertemuan itu. Dan, pekerjaan pun menjadi menggembirakan. Bila anda tidak mencintai rekan-rekan anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tidak menemukan kesenangan disana, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari kerja anda, tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.

Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada disitu?? tidak ada alasan bagi anda utuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah disana. Hidup hanya satu kali. Tidak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
Continue Reading...

Minggu, 16 Agustus 2009

BERSYUKURLAH PADA APA SAJA

Anda wajib mensyukuri apa pin yang menimpa anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun, sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan atas kesalahan.

Bersyukur mendorong anda untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tidak ada yang meringankan hidup anda selain sikap bersyukur. Semakin banyak anda bersyukur semakin banyak anda menerima. Semakin banyak anda mengingkari, semakin berat beban yang anda jejalkan pada diri anda sendiri. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena anda tidak akan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Anda berhasil karena berusaha. Sedangkan usaha anda lakukan karena anda melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah positif itu tampak di pandangan anda.

Continue Reading...

Sabtu, 15 Agustus 2009

TINDAKAN KITA SEBATAS KITA MEMANDANG DUNIA

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil.

Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Semenatara dunia anda tidak luas dari pikiran anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan berfikiran positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggenggam apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapai diri sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negaif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri kita sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

Continue Reading...
Template Design by faris vio